Rabu, 16 Oktober 2013

High Speed Camera

15.25 0 Comments
Disini ada video slow motion ni yang siapa tau bisa menarik kalian untuk mbuat video kaya gini                                                                                                                                                                                   


                                                 Contoh video yang pertama

                                                                                                                                                                                            


Contoh video yang ke dua


                                                                                                                                                                                                                                                       


                                                 Contoh video yang ke 3


                                                                                               

Contoh yang ke 4



Film Animasi Dari Masa ke Masa

15.21 0 Comments
Animasi secara sederhana bisa kita katakan sebuah ilustrasi atau gambar yang dicetak dalam frame demi frame. Tiap-tiap frame memiliki gambar yang berbeda (nyaris sama) satu sama lain sehingga jika diproyeksikan (bergerak secara cepat) terciptalah ilusi pergerakan gambar. Perkembangan teknik animasi dari masa ke masa demikian pesat. Sejak awal kali pertama para pembuat animasi langsung menggambar pada frame filmnya hingga kini telah menggunakan teknologi digital. Dari animasi dua dimensi (2-D), lalu animasi stop-motion, kini berkembang menjadi animasi tiga dimensi digital (CGI). Batasan film animasi juga semakin “kabur” karena teknik animasi kini lazim digunakan sebagai efek visual untuk film-film non-animasi, seperti sering kita lihat pada film-film fiksi ilmiah serta fantasi.
Animasi juga sering disebut sebagai atribut genre. Animasi bukanlah genre namun lebih tepatnya merupakan sebuah teknik. Film animasi memiliki jangkauan wilayah cerita serta genre yang luas, seperti drama, fiksi-ilmiah, perang, fantasi, horor, musikal, hingga epik sejarah. Walau bisa dinikmati oleh semua kalangan, film animasi juga identik sebagai film hiburan anak-anak karena pada kenyataannya sebagian besar film yang diproduksi memang ditujukan untuk anak-anak. Dalam beberapa kasus seperti di Jepang misalnya, film animasi juga diproduksi untuk segmen penonton dewasa.
Oleh: Himawan Pratista
Pengajar dan Pemerhati Film, tinggal di Yogyakarta
http://montase.blogspot.com/2008/03/film-animasi-dari-masa-ke-masa.html
atau more information bisa didapat di:
http://filmpelajar.com/tutorial/film-animasi-dari-masa-ke-masa
kalian bisabelajar di  sana karena banyak sumber ilmu di film pelajar ;)

Senin, 30 September 2013

Bagaimana Membuat Film Dokumenter

07.23 0 Comments
Bagaimana Membuat Film Dokumenter

oleh Jennifer Steinberg


Sebagai kurator sebuah festival film dokumenter, saya sering ditanya tentang bagaimana seharusnya seseorang membuat atau memproduksi film dokumenter. Sekarang ini, dengan peralatan yang murah, setiap orang dapat membuat film. Bisa saja benar demikian, namun, seberapa baik hasilnya? Adakah yang bersedia membayar untuk menontonnya?

Berikut adalah beberapa langkah penting yang sangat mendasar dalam membuat film dokumenter:

1) Pastikan bahwa kita mempunyai ide yang orisinil. Telusuri daftar-daftar film di festival internasional (khususnya Hot Docs, Silver Docs, Full Frame dan festival film dokumenter lainnya), Internet Movie Database, Indiewire dan wadah film-film lainnya, untuk memastikan bahwa belum ada film dengan topik yang sama pernah dibuat. Hampir semua film yang dibuat oleh para pemula dapat menarik perhatian para distributor film dari keikutsertaanya dalam festival film. Programer festival biasanya hanya mempunyai sedikit tempat untuk film dokumenter. Pastikan bahwa film kita berbeda dari yang lain. Film-film tentang 9/11, Iraq, dan AIDS adalah film-film yang sudah sangat umum.

2) Baca. Jika belum pernah sama sekali membuat film maka kita harus banyak belajar. Jangan membuat kesalahan-kesalahan yang tidak penting dan akhirnya membuang-buang uang. Luangkan waktu untuk membaca atau mencari cara untuk mendapatkan masukan dari para profesional.

3) Tonton. Carilah tempat-tempat di mana kita bisa menyewa atau menonton film-film dokumenter. Jika menggunakan TV kabel, beberapa saluran (channel) juga dapat menjadi sumber yang baik. Diskusikan film dokumenter favorit bersama teman yang juga menyukai film. Catat hasil diskusi yang penting.

4) Riset. Kita harus tahu bagaimana caranya membuat si subyek benar-benar 'hidup' dalam film. Pikirkan itu pada saat membuat treatment? hingga ke tampilannya. Pastikan kita sudah mendapatkan kesediaan dari para nara sumber juga izin lokasi di mana kita akan merekam gambar.

5) Jika hal-hal yang dibutuhkan sudah terkumpul, mulailah menulis treatment. Ikuti format yang sudah ditetapkan dalam menulis treatment?. Cari buku panduan jika membutuhkan bantuan. Ingatlah bahwa karya kita bermula dari treatment.

6) Hitung dan kumpulkan anggaran. Perkirakan berapa wawancara yang akan dilakukan dalam pembuatan film ini, berapa hari yang diperlukan, berapa tim yang akan ikut dalam produksi ini (penata suara, penata kamera, sutradara, editor), perlu tidaknya menyewa alat. Belakangan ini, kebanyakan film dokumenter berformat DVD or DigiBeta. Jangan lupa, izin atau biaya hak cipta dari musik yang akan kita pakai dapat menambah biaya yang cukup lumayan.

7) Tambahkan 30% di rencana anggaran kita, sebagai anggaran tidak terduga.

8) Cari investor atau pen-donor. Para pemula biasanya mengajak teman atau keluarganya untuk ambil bagian dalam filmnya. Kita bisa mengajukan proposal ke bermacam-macam yayasan yang memberikan bantuan dana bagi pembuatan film dokumenter. Pada umumnya kita harus menunggu 3-6 bulan dari awal pengajuan proposal untuk mendapatkan jawabannya. Jangan memaksakan diri meminjam uang atau menggunakan kartu kredit untuk membuat film.

9) Atau kita bisa juga mempresentasikan treatment kita ke stasiun-stasiun TV yang mempunyai program dokumenter.

10) Produksi film.

11) Putar film kita di kalangan yang mengapresiasi film dokumenter atau kelompok-kelompok yang merupakan target penonton film kita. Evaluasi film kita melalui angket yang disebarkan saat itu, yaitu meminta penonton untuk menuliskan pendapat mereka tentang film kita. Apakah mereka mengerti, bagaimana suasananya dan pertanyan-pertanyaan lain yang kita anggap penting.

12) Tilik kembali evaluasi-evaluasi yang kita dapatkan dan kemudian pikirkan kembali apakah ada yang perlu diubah atau ditambahkan.

13) Ajukan film kita ke festival-festival film yang ada. Bisa dimulai dari festival-festival lokal (daerah) dan nasional.


(Diambil dari: www.helium.com/items/329147-how-to-produce-a-documentary-film)





Rambut Sehat untuk Hijabers

06.44 0 Comments
Rambut adalah mahkota setiap cewek, begitu juga buat kamu yang mengenakan hijab. Makanya tetap harus dirawat, supaya terbebas dari masalah rambut rontok, lepek dan berketombe. Ikuti beberapa tip berikut ini, yuk!

Gunakan Shampo dan Kondisioner yang BenarCuci rambutmu 3 kali dalam seminggu untuk menjaganya agar tetap lembap. Saat keramas pastikan kamu menggunakan shampo dan kondisioner yang sesuai dengan jenis rambutmu. Salah menggunakan shampo dan kondisioner bisa membuat rambut menjadi rusak dan nggak sehat.

Keringkan Rambut Secara AlamiHindari mengeringkan rambut dengan hairdryer. Karena, penggunaan hairdryer yang terlalu sering dapat menyebabkan rambut menjadi kering dan rusak.

Pilih Bentuk Sisir yang TepatPilih sisir berbentuk bulat dan bergigi jarang, lalu sisir rambutmu dari pangkal hingga ujung rambut. Pastikan rambutmu tetap rapi dan tidak kusut saat akan memakai hijab.  

Creambath dan Masker RambutWalaupun kamu mengenakan hijab, nggak ada salahnya melakukan creambath atau spa rambut di salon. Lakukan seminggu sekali agar rambutmu tetap sehat dan berkilau. Atau kamu pun bisa melakukan perawatan masker rambut sendiri di rumah dengan menggunakan bahan alami, seperti buah-buahan.

Hindari juga!
  • Mengikat rambut terlalu kencang saat sedang mengenakan hijab. Karena rambutmu akan menjadi rusak, mudah patah dan kulit kepala menjadi sakit.
  • Memakai hijab dalam keadaan rambut setengah kering, karena dapat membuat rambutmu semakin lepek dan berketombe

5 Faktor Penyebab Jerawat

06.41 0 Comments
Munculnya jerawat di wajah, bisa bikin kita nggak pede. Kabar buruknya, munculnya jerawat nggak pandang bulu. Kabar baiknya, dengan mengetahui lima fakta berikut ini, kamu bisa lebih mudah mengatasi jerawat.
Faktor KeturunanYup, it’s in the blood. Coba lihat mama atau papa, apakah di antara mereka ada yang wajahnya berjerawat? Jika iya, maka kemungkinan munculnya jerawat di wajahmu cukup besar.

Faktor Jenis KulitBanyak yang percaya bahwa jerawat hanya datang pada kita yang memiliki jenis kulit berminyak. Padahal, pada kulit wajah orang yang memiliki jenis kulit kering pun bisa muncul jerawat, lho.

Faktor SkincareBukan rahasia lagi kalau ketidakcocokan kulit kita pada skincare tertentu bisa menimbulkan jerawat. Kadang kulit kita memang butuh waktu buat beradaptasi dengan kosmetik lewat perubahan kondisi kulit. Salah satu reaksi beradaptasinya adalah timbul jerawat. Tapi kalau munculnya jerawat sudah lewat dari satu bulan, sebaiknya hentikan pemakaian skincare.

Faktor KebersihanPerhatikan kebersihan spons bedak, kuas makeup, handuk, atau apapun yang bersentuhan langsung dengan kulit wajah kita. Karena bakteri dalam benda-benda tersebut bisa mengakibatkan munculnya jerawat pada kulit. Biasakan untuk membersihkan atau menggantinya seminggu atau dua minggu sekali.

Faktor KebiasaanHabis kehujanan, naik motor atau beraktivitas outdoor? Sebaiknya segera cuci wajahmu dengan sabun muka. Atau gunakan susu pembersih agar lebih dalam membersihkan kotoran di pori-pori, supaya kulit bisa bernafas kembali setelah beberapa waktu tertutup kotoran

Follow Us @dinikamilasari

Dini Kamila Sari (@dinikamilasari) • Instagram photos and videos